Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

Monday, January 21, 2019

Semangat Menebar Kebaikan Lewat Tulisan

January 21, 2019 0 Comments

Saya adalah ibu dari seorang anak. Punya hobi menulis sejak kecil. Saya paling suka diberi tugas mengarang sewaktu di sekolah dasar pada pelajaran Bahasa Indonesia. Entah mengapa, seperti ada hasrat yang terlampiaskan ketika menulis. Dulu saya tak pandai bicara, mungkin lebih tepatnya pemalu, namun jika jari saya sudah bekerja, apapun yang ingin saya ungkapkan seolah tak satupun terlewatkan.

Sewaktu SMA, orang tua saya membelikan saya komputer pentium 3. Saya suka berlama-lama di depan komputer untuk mendengarkan musik dan mengerjakan tugas hingga lupa waktu. Lama-kelamaan saya berpikir agar tak hanya mengejar deadline tugas saja di depan komputer, saya butuh sesuatu yang lebih dari sekedar mengerjakan tugas dan mendengarkan musik. Saya mulai membuka Microsoft Word dan mulai merangkai kata. Dulu, internet tak sepopuler sekarang, sehingga yang bisa saya otak atik hanya Microsoft Word. Dan saya tak terlalu menikmati game di komputer. Waktu SMA ketika jam istirahat, saya suka ke perpustakaan dan membaca novel. Namun kok rasanya saya hanya menjadi konsumen ya? Saya berpikir mengapa bukan saya yang menulis novel dan dibaca oleh orang lain? Akhirnya dimulai dari suka masuk ke dalam dunia fiksi, saya pun  jadi suka membuat cerpen dan novel.

Sewaktu SMA, saya juga pernah ikut serta menjadi penulis temporer di koran lokal. Waktu itu koran tersebut merekrut pelajar-pelajar dari beberapa sekolah untuk bisa menyumbangkan karyanya dan kami diberi honor untuk mengisi rubrik siswa. Dan saya mendapatkan kesempatan itu. Uang yang didapat mungkin tak seberapa, yang paling saya senangi adalah ketika tulisan saya bisa dibaca oleh orang-orang seJambi kala itu.

Saat menjadi arsitek pun saya pernah diminta oleh koran lokal untuk menulis tentang profesi. Saya tak menolak. Saya senang sekali bisa berkontribusi kembali. Waktu itu isi artikel saya tentang pendidikan yang kerap mengubah mental dan perilaku. Ya, isinya tentang pola pikir para mahasiswa yang terkadang salah intruksi. Mungkin saya bukan siapa-siapa, tapi saya berharap tulisan saya bisa diterima oleh masyarakat dan berharap itu bermanfaat.

Tahun 2009, ketika internet mulai merajai dunia, saya membuat blog arsitektur yang berisi karya-karya arsitektur saya selama kuliah dan mengikuti sayembara desain. Tak peduli siapa yang membaca blog itu dan betapa buruknya desain saya waktu itu, saya hanya berpikir karya saya tak boleh terlupakan, harus diabadikan lewat tulisan sebagai bentuk dari penghargaan terhadap diri sendiri. Karena bagi saya, siapa lagi yang akan menghargai karya kita jika bukan diri kita sendiri kan? Dan bagi saya, karya arsitektur yang saya tulis dari masa ke masa itu sebagai bentuk perbandingan kemampuan saya dalam hal desain. Saya bisa melihat dari tahun ke tahun bentuk karya saya berubah-ubah dan saya jadi bisa mengukur diri. Seiring berkembangnya waktu, blog arsitektur saya itu jadi portfolio dan Alhamdulillah dari blog itu saya jadi banyak dapat job desain. Awalnya hanya berpikir untuk berbagi dan mengumpulkan portfolio, lama-kelamaan rezeki datang sendiri.

Di blog itu juga saya suka menulis tentang travelling. Berjumpa dengan bangunan tua dan lagi-lagi tak jauh dari arsitektur. Saya mereview detail-detail bangunan tua dan tempat wisata. Tujuannya juga sebagai referensi desain saya dan untuk berbagi dengan pembaca, siapa tau ada pembaca yang butuh referensi untuk perjalanan wisatanya.

Seiring berjalannya waktu, saya butuh sesuatu yang lebih. Saya merasa masih ada hasrat yang belum terpenuhi di dalam tulisan-tulisan saya. Saya ingin menulis lebih, namun tak punya banyak waktu untuk mengembangkan hobi yang lain karena saya selalu disibukkan dengan pekerjaan saya yang selalu mengejar deadline. Hingga akhirnya, ketika menikah saya punya banyak waktu untuk bisa menulis dan akhirnya terbentuklah blog ini. Saya memutuskan untuk resign dan fokus pada keluarga. Saya bekerja di rumah, membuka biro arsitektur sendiri di rumah.

Di blog ini saya ingin banyak menulis tentang hal-hal bermanfaat lainnya seperti tentang kehidupan, hobi, inspirasi, tutorial, dan lain sebagainya. Intinya, saya ingin lebih banyak berbagi tak hanya soal arsitektur saja. Saya menginginkan kehidupan yang lebih normal tanpa deadline. Saya berharap blog ini bisa dijadikan pelajaran dan juga inspirasi bagi pembaca.

Niat awal untuk berbagi ternyata menuai banyak kesempatan untuk mendapatkan rezeki. Lama bergelut menjadi blogger arsitektur, saya terlalu sibuk mengumpulkan portfolio dan mengabaikan hal-hal yang sebenarnya dapat mendapatkan pundi-pundi rezeki dari dunia internet. Karena awalnya tak ada niat untuk mencari uang, hanya untuk berbagi. Ketika saya mulai resign dari pekerjaan, barulah kesempatan-kesempatan itu saya cari tahu lewat blogger lainnya. Dimulai dari ikut kompetisi menulis, sampai dengan memasang iklan di blog.
Source : pixabay
Profesi saya sebagai arsitek memang membanggakan, tapi ada satu hal yang sering saya lupakan. Saya hanya berbagi dengan orang-orang sesama profesi dan mahasiswa arsitektur. Tapi profesi baru saya sebagai blogger jauh lebih membanggakan. Saya merasa bisa hidup lebih normal saat ini. Bisa berbagi lebih dengan banyak hal yang saya lewati sehari-hari, tak melulu soal profesi arsitek saya saja. Saya bangga bisa berbagi banyak manfaat lewat tulisan.

Harapan dan resolusi saya menjadi blogger di tahun 2019 ini antara lain adalah :







Ketika kita tak punya banyak waktu, energi, dan uang untuk berbagi, mungkin bisa berbagi lewat tulisan. Awal saya menulis blog adalah tulisan tentang kehamilan. Tulisannya bisa dilihat di sini. Setelah 1 tahun berlalu, saya lihat viewersnya mencapai 7000an. Ternyata tulisan saya berguna juga. Sejak saat itu, saya mulai rutin menulis minimal 1 kali dalam seminggu. Mungkin pengalaman yang saya abadikan lewat tulisan bisa jadi referensi bagi pembaca. Dan saya berharap tulisan saya yang lain bisa lebih banyak manfaatnya lagi untuk orang banyak. 








Saya punya akun Instagram hobi_menjahit . Akun itu akun iseng saya yang merepost tips, trik, dan tutorial sederhana tentang menjahit. Dibanding akun Instagram saya yang lain yang berisi jualanan saya dan akun pribadi, akun hobi_menjahit followersnya lebih cepat naik. Setelah saya pelajari ternyata karena isinya adalah hal-hal yang dibutuhkan banyak orang berupa tutorial. Ternyata hal-hal bermanfaat lebih banyak dicari oleh pengguna media sosial. Begitu juga dengan blog. Tulisan saya yang berisi tentang manfaat, review produk, dan pengalaman lebih banyak viewernya dibandingkan dengan tulisan lainnya. Karena pembaca butuh banyak referensi ketika mencari di mesin pencarian Google. Jadi untuk tahun ini saya berniat untuk bisa menulis blog tentang tutorial sew and craft sesuai dengan passion dan hobi saya. Saya berharap bisa berlanjut juga di tahun-tahun berikutnya. Entah mengapa, seperti ada kepuasan tersendiri saja jika tulisan kita bisa bermanfaat bagi orang lain. Secara tidak langsung kita membantu orang lain dalam mencari referensi bukan?







Nah... masih ada lagi yang ingin saya capai di tahun 2019 ini. Saya ingin menerbitkan novel lagi. Berbagi cerita yang syarat makna kepada pembaca. Ini passion yang tak pernah hilang sejak zaman saya SMA. Saya ingin berbagi cerita dalam cerita, ya... itu bisa diwujudkan dengan menulis novel. Tak hanya melulu soal cinta, tapi dengan bercerita, kita bisa menyampaikan makna tentang kehidupan di dalamnya. Berbeda dengan blog, novel berisi tentang fiksi yang disamarkan lewat kata, namun pernah terjadi di dunia nyata. Di dalam novel, kita bisa masuk ke dunia lain. Hanya pecinta novel yang bisa mengartikan maksud saya. Hehe...







Ketika kita berbagi manfaat kepada orang lain, saya sangat yakin rezeki itu akan datang sendiri. Dengan menulis saja pundi-pundi rezeki berdatangan. Blogger bisa mendapatkan imbalan dari pemasangan iklan, dari review produk, dan yang paling saya sukai adalah dari kompetisi. Selain mendapatkan hadiah jika menang, bagi saya kompetisi adalah untuk mengukur kemampuan. Sejauh mana kualitas tulisan kita berkembang. Asyik sekali rasanya jika kita bisa menghasilkan uang dari hobi. Karena hobi yang membayar kita. 

***

Lomba blog sangat banyak sekali, tinggal kita pilih yang sesuai dengan waktu dan kemampuan kita untuk mengumpulkan ide. Dan di tahun 2019 ini saya ingin banyak menulis lomba untuk mengukur kemampuan. Dan dari lomba blog, kita bisa berteman dengan banyak Blogger profesional.

Saya banyak mendapatkan info lomba blog dari instagram. Salah satu yang memicu untuk menulis adalah hadiah-hadiahnya yang lumayan juga untuk jajan anak. Saya mendapatkan info Lomba Blog Nodi dari Instagram. Saya juga terinspirasi dari Bang Nodi untuk rajin menulis. Beliau banyak mendapatkan penghasilan tambahan dari blog. Berawal dari hobi menulis dan menebar manfaat, rupanya beliau sering memenangkan lomba blog. Awalnya hanya untuk mengukur kemampuan menulis, lama kelamaan rezeki datang sendiri dan bisa kasih tambahan belanja buat sang istri. Setelah membaca tulisannya, ternyata beliau adalah blogger yang inspiratif buat saya.

Blog Bang Nodi
Terkadang, saya sering kehabisan ide untuk menulis. Ternyata, ide menulis bisa kita dapatkan dari tema-tema pada lomba blog yang kita ikuti. Dari tema-tema itu kadang muncul ide-ide lain untuk menulis lebih banyak lagi. Saya bangga bisa menjadi narablog yang bisa menebar manfaat. Karena sesungguhnya, pribadi yang paling baik di dunia ini adalah mereka yang bisa menjadi diri yang berguna untuk orang lain.


Di era digital sekarang, informasi dapat disebarkan dengan sangat mudah. Kontribusi saya dalam dunia tulis-menulis tak lagi sesulit dulu. Jika dulu untuk mengirimkan karya tulis saja harus ke kantor pos untuk dikirim ke alamat koran, sekarang kita bisa menulis kapan saja kita mau dan kita sendiri bisa menyebarkan tulisan kita dengan mudahnya. Tulisan kita bisa diakses dimana saja dan oleh siapa saja. Kita sebagai penulis hanya perlu banyak belajar dan membaca untuk dapat mengumpulkan banyak informasi untuk bisa kita olah menjadi sebuah tulisan yang bermakna dan bermanfaat bagi orang lain. 



*** Blog ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diadakan oleh Blogger Inspiratif Nodi Harahap




Saturday, January 5, 2019

Badai Pasti Berlalu

January 05, 2019 0 Comments
Courtesy by NU Online

Ini cerita saya di awal tahun sebagai flashback di tahun 2018 lalu untuk menjadi pelajaran berharga yang menurut saya cukup untuk dikenang, tidak diulang. Siapa tau bisa jadi pelajaran, dan jika ini tidak baik mungkin cukup dibuang saja dan dilupakan.

Di awal 2018 saya sudah memutuskan untuk resign dari kantor konsultan tempat saya bekerja. Alasannya karena hamil Asya. Saya merasa kelelahan menjadi istri bekerja yang merangkap sebagai ibu rumah tangga juga. Saya tak punya pembantu. Waktu itu saya juga mencoba buka usaha menjahit di rumah. Suami sudah sejak lama menyuruh saya untuk berhenti bekerja namun saya ragu. Banyak sekali ketakutan tak beralasan dari diri saya untuk menolak permintaan suami. Saya takut tak punya uang, saya takut tak cukup uang, dan saya takut kesepian. Bukan tanpa alasan suami menyuruh saya resign. Mengingat dan menimbang banyak sekali masalah yang muncul karena saya bekerja. Dimulai dari saya yang mudah kelelahan dan sampai di rumah marah-marah, lalu ditambah lagi pergaulan saya yang mau tidak mau harus selalu bergaul dengan laki-laki karena saya seorang arsitek. 

Suami saya tidak salah. Saya yang egois. Akhirnya keputusan resign pun saya ambil meski dengan berat hati. Namun bukan tanpa solusi, suami saya terus membimbing saya untuk bisa mandiri tanpa bekerja dengan orang lain. Saya dan suami membuka biro arsitetur di rumah. Ya, suami saya tetap mengizinkan saya bekerja tapi tetap berada di rumah. Sampai sekarang saya dan suami masih menjalankan usaha jasa tersebut.

Lalu Allah kasih cobaan kepada saya dan suami di bulan Maret. Kontrak kerja suami yang waktu itu bekerja di WWF tidak berlanjut sampai pada waktu yang tidak bisa ditentukan. Suami pun akhirnya tak punya pekerjaan tetap dan kami berdua menjalankan usaha jasa kami hanya dari rumah saja. Dan usaha itu berjalan lancar tanpa hambatan hingga bulan Juli.

Bulan Juli Asya lahir. Saat itu saya harus operasi caesar karena tensi saya tinggi sekali, 170 waktu itu. Tak mungkin lagi diinduksi, ketuban pun sudah pecah. 15 jam saya menahan sakit tanpa henti. Di bulan Juni dan Juli kami merasa sangat kesusahan. Karena kondisi saya sedang hamil besar dan mendekati hari perkiraan lahir, suami saya akhirnya menyetop orderan desain. Saya disuruh beristirahat yang banyak. Kami belum punya SDM yang cukup untuk menerima semua orderan desain waktu itu. Semua pekerjaan kami berdua yang lakukan.

Dan masalah pun bermunculan. Allah menguji kami berdua. Pada bulan Juni dan Juli tersebut ekonomi suami mulai sulit. Semua project saya mandeg. Ada pula orang menipu kami. Suami saya mencari jalan agar kebutuhan kami tercukupi. Mulai mencari pekerjaan meskipun usaha jasa kami harus terabaikan karena kebutuhan yang mendesak, lalu mencoba berjualan apapun di internet dari mulai yang kecil sampai yang besar. Lalu menjual apa saja yang bisa dijual hingga rumah kami pun terjual. Kemudian beliau juga jadi marketing perumahan lagi. Semua dia lakukan untuk mencukupi kebutuhan hidup saya dan Asya.

Dan entah kenapa di bulan Asya lahir itu tak satu pun sesuatu yang suami saya jual itu terjual, sampai buku pun tak ada yang beli. Lamaran kerjanya tak ada yang  diterima, tak ada panggilan interview sama sekali. Orderan desain pun juga tak ada. Sempit sekali rezeki kami pada saat itu. Saya sedih sekali dengan keadaan tersebut. Tapi saya tetap ingin menjadi istri yang baik yang tetap mendampingi suami dalam keadaan paling bawah sekalipun. Sampai saat itu kami mau tak mau meminjam uang orang tua karena kesulitan tersebut. Kebutuhan Asya setiap hari harus terpenuhi, susunya, popoknya.

Tak cuma sampai disitu, ketika Asya berumur 4 hari, dia harus dibawa ke klinik karena badannya panas, dia menangis meraung-raung malam itu. Tiba di klinik, bidan bilang Asya kekurangan ASI. Saya berpikir bagaimana mungkin? Saya menyusui Asya sampai 6 jam tapi dia tak pernah kenyang. Saya dan Asya masih belajar menyusui. Mungkin dia belum pandai menyusui sama seperti saya yang belum pandai memberikan ASI dengan baik. Atas saran bidan, saya disuruh memberikan susu formula agar panas badan Asya turun. Setelah minum susu formula, benar kiranya, panasnya mulai turun dan dia tidur dengan nyenyak karena kenyang. Masalah muncul kembali, Asya terkena alergi susu sapi, telinganya keluar nanah dan kulitnya penuh dengan nanah, ruam, dan bonyok. Dengan terpaksa Asya dibawa bolak balik ke rumah sakit. Saya sedih sekali waktu itu. Akhirnya Asya diberikan susu soya.

Tak hanya sampai disitu, ketika Asya berumur sebulan, Allah kasih cobaan ke saya, payudara saya bengkak seperti mau meletus. Rasanya sakit luar biasa. Dokter bilang saya terkena radang payudara dan dirujuk untuk operasi. Katanya saya tak mau menyusui hingga payudara saya bengkak. Padahal paling sebentar saya menyusui Asya itu 4 jam, tetap saja saya disalahkan dokter. Sedih sekali rasanya. Mereka tak mau mendengarkan saya. Sampai pada waktu itu saya menangis berhari-hari karena menahan sakit. Saya katakan pada suami bahwa saya rasanya mau mati menahan rasa sakit itu. Saya minta maaf ke orang-orang mengatakan kalau seandainya saya mati, tolong jaga Asya dengan baik. Sampai saya berusaha untuk mengikhlaskan diri ini jika seandainya suami menikah lagi. Belum lagi masalah dengan keluarga yang tak mau mengerti bahwa kami sedang tak punya uang.

Sampai berbulan-bulan kami hidup penuh kekurangan. Allah kasih cobaan ke suami saya ketika saya sakit. Dan Allah juga kasih cobaan ke saya ketika suami saya miskin. Saat itu saya hanya berharap, badai pasti berlalu. Saya percaya isi Surat Al-Insyirah yang mengatakan bahwa dibalik kesulitan ada kemudahan. Saya selalu yakin itu.

Sejak Asya lahir sampai akhir tahun 2018, saya dan suami harus kerja serabutan untuk mencukupi kebutuhan hidup kami. Tidak berlebih namun pas. Dan hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Benar adanya, roda itu terus berputar. Saya selalu yakin Allah tak akan membiarkan hambanya terus berada di bawah, dia akan angkat derajat bagi hamba-hambanya yang terus bersabar. 

Alhamdulillah Allah hanya menguji kami sebentar untuk saat itu. Pelan-pelan Allah mudahkan rezeki kami kembali. Setiap hari saya menunggu segala hal buruk dan menyedihkan pasti akan berakhir. Dan Alhamdulillah orderan desain saya mulai banyak lagi, lubang-lubang rezeki mulai tampak kembali, dan Alhamdulillah, di akhir tahun 2018 saya mendapat kabar gembira bahwa suami saya lulus CPNS. Meskipun ikhtiar untuk menjadi CPNS itu adalah ikhiar terakhir saat itu dan dia tak menginginkannya, tapi jalan itulah yang Allah berikan kepada kami saat ini. 

Kami merasa, mungkin segala kesulitan kami saat ini karena orang tua kami tak ridho dengan jalan kami yang memilih untuk jadi enterpreneur, mereka lebih bangga jika kami punya pekerjaan tetap. Dan suami saya mencoba jalan yang orang tua kami inginkan meskipun hatinya berat. Dan Allah sudah mengabulkan doa orang tua kami meskipun mimpi suami saya harus dikorbankan. Tapi Allah Maha Tahu yang terbaik bagi hambanya. Saya dan suami hanya berusaha ridho dan ikhlas menerima ketetapanNya. 


Mungkin masalah terasa berat ketika kita berusaha untuk melawan.


Dan saya selalu sadar, cobaan dalam rumah tangga itu tak hanya satu. Dan yang mengalami kesulitan itu tak hanya kami. Banyak orang di luar sana yang cobaannya jauh lebih berat dari kami. Namun tentu Allah memberikan cobaan sesuai dengan kesanggupan hambaNya.

Menikah itu menyelesaikan satu masalah, tapi setelah itu ada banyak masalah baru menanti. Tapi bedanya, kita sudah berdua dan segala hal yang dilakukan penuh dengan berkah. Alhamdulillah untuk cobaan di tahun 2018 lalu, dengan cobaan itu menjadikan kami lebih dekat dengan Tuhan dan percaya bahwa Tuhan benar-benar menyayangi kami. Allah memberi ujian bukan tanpa alasan, karena Tuhan ingin mengangkat derajat hambaNya...


😊😊😊😊😊

Monday, January 22, 2018

Suka Duka Kehamilan Trisemester Pertama

January 22, 2018 3 Comments
Assalamu'alaikum mommy kece...

Courtesy : Pinterest
Ini postingan kedua saya. Berhubung sekarang saya sedang hamil 3 bulan 3 minggu, yang sebentar lagi akan memasuki 4 bulan, saya ingin sekali berbagi cerita tentang suka duka di awal kehamilan pada trisemester pertama lalu.

Hmm... seharusnya diusia 3 minggu lebih kehamilan ini adalah masa jaya para bumil untuk merasakan ketenangan karena bebas dari morning sickness. Tapi berbeda dengan saya, morning sickness malah terjadi ketika memasuki bulan ketiga kehamilan. Awalnya saya merasa berada di atas angin di masa awal kehamilan , saya pikir saya akan baik-baik saja tanpa morning sickness, ternyata no... saya merasakannya.

Mual ketika menyantap makanan, eneg ketika mencium bau nasi dan bau-bauan menyengat lainnya. Oh,,, rupanya begitu rasanya ya :) Tapi tetap merasa alhamdulillah saja karena Allah telah menitipkan karunia terbesarnya kepada saya disaat banyak orang yang belum diberi kepercayaan untuk memiliki anak, Allah mempercayakan saya dan suami untuk dititipi berkah luar biasa ini... (Baper mode on...)

Saya sempat su'udzan dulu, saya pikir saya termasuk orang yang sulit memiliki anak, saya pikir saya kelelahan bekerja, saya lupa do'a di awal pernikahan dulu untuk menunda momongan karena ingin pacaran dulu dengan suami. Secara, kami hanya kenal 2 minggu kemudian menikah, jadi inginnya berdua dulu. Kami melupakan do'a kami. Di bulan ke 7 pernikahan, Allah memberikan hadiah luar biasa. Sebenarnya 6 bulan itu tidaklah lama, hanya kami saja yang kurang sabar.

Awal kehamilan dulu saya belum sadar. Bulan Oktober lalu saya merasa emosi sangat tidak stabil, lebih parah dari PMS. Awalnya saya kira saya mau halangan. Sasarannya ya suami tercinta. Waktu itu rasanya apa yang dia lakukan selalu salah di mata saya, begini salah, begitu pun salah. Sampai beliau pun merasakan emosi saya sudah tak terkendali lagi. Beberapa minggu bertengkar masalah-masalah sepele yang sebenarnya tak perlu dipertengkarkan. Dan semua masalah itu sayalah penyebabnya, Tapi siapa yang tau kalau sebenarnya saya hamil. Saya mulai curiga. Nafsu makan berkurang drastis. Badan makin kurus, emosi tak stabil, rasanya semua orang jahat. Padahal sebenarnya kondisi normal-normal saja, saya yang tidak normal.... :v

Lalu di bulan November saya telat 4 hari, sebenarnya tidak ingin baper, tapi entah mengapa saya curiga sepertinya saya hamil. Waktu itu minta diantar ke apotik untuk beli testpack. Suami bilang, "nantilah tunggu seminggu aja, nanti jadi baper..." Tapi saya ini tipe orang yang berpikir panjang. Saya berpikir, jika benar saya hamil kan saya bisa lebih hati-hati dalam berkegiatan. Kalo gak tau nanti saya sembrono...

Akhirnya suami pun menuruti saya untuk ke apotik beli testpack. Paginya saya cek ternyata saya beneran hamil. Waktu itu garis di testpact masih samar. Saya tanya-tanya ke temen yang sudah hamil duluan. Katanya nanti saja kalo mau ke dokter tunggu 2 minggu lagi daripada bolak balik karena biasanya kalau langsung ke dokter nanti disuruh balik lagi dua minggu lagi untuk bisa di USG. Selama menunggu 2 minggu itu, saya tanya sana sini kapan waktu yang tepat untuk USG. Saudara saya bilang, "Nanti saja pas 4 bulan. Yang mau dilihat itu apa? Kalau 5 bulan baru bisa lihat kelamin. Kalau sekarang buat apa, paling yang dilihat cuma titik gumpalan darah doank..." Jleb... Berniat mau bertanya pada yang sudah berpengalaman, eh malah dipatahkan begitu. Rasanya jleb... Karena perkataan itu saya pun berpikir sampai 3 bulan untuk USG. Catatannya adalah, ibu hamil itu hormonnya sedang tak stabil, ucapan yang sedikit saja menyentil itu bisa bikin sakit hati berkepanjangan, maklumlah ibu hamil kan tidak normal...

Dan waktu itu saya bertemu teman saya yang seorang bidan, dia waktu itu bertanya apa sudah di USG? Saya katakan belum karena masih mikir. Saya ceritakanlah omongan saudara saya itu, dan saya malah dimarahin sama teman saya, katanya, "Pentingnya USG di awal kehamilan itu adalah untuk mengetahui apakah kehamilan itu benar di dalam rahim atau di luar rahim? Jika terjadi di luar rahim kehamilan tidak bisa dilanjutkan dan harus digugurkan. Lebih baik tau sejak awal. Dan minimal periksa kehamilan pertama di puskesmas agar diberi vitamin-vitamin yang dibutuhkan ibu hamil." Dan jleb. Akhirnya saya mengerti. Saya terlalu kepikiran dengan omongan saudara saya sampai akhirnya saya menunda pemeriksaan. Saya merasa benar-benar tersesat saat itu. 

Akhirnya saya pun cek ke puskesmas terdekat, disana saya diberikan asam folat merek -folaxin- dan tablet anti mual, kata bidannya untuk awal kehamilan asam folatnya minum yang -folaxin-, nanti kalau sudah besar baru minum -folamil genio-. Nah, untuk ibu-ibu yang baru hamil sebaiknya langsung periksakan diri ketika mengetahui kehamilan. Tujuannya supaya kita bisa jaga-jaga supaya jangan terlalu capek, dan juga supaya bisa diberi vitamin-vitamin penunjang supaya gak mual. 

Seminggu kemudian saya ke dokter kandungan di Rumah Sakit Islam Arafah Jambi dengan dokter Suhair Quswain, saat itu usia kandungan saya sudah memasuki 3 bulan, saya pikir sudah saatnya untuk cek up. Itu juga setelah searching kesana kemari mencari dokter yang baik. Kabarnya ada dokter yang galak dan suka bikin tersinggung kalau ngomong. Untuk menghindari itu saya dengan Dr. Suhair saja. Beliau doker perempuan. Tadinya ada dokter praktek di dekat rumah orang tua yang sudah menyediakan USG 4D, tapi karena dokternya cowok suami tidak mengizinkan. 

Dan di RSI Arafah ternyata hanya bisa USG 2D, saya pikir bisa 4D. Saya ingin lihat kelengkapan organ tubuh debay. Tapi tidak apalah. Dokter bilang anak saya sehat, lincah, dan bergerak terus. Sewaktu di USG juga kaki tangannya bergerak aktif. Rasanya bersyukur sekali. Saya merasa terharu karena tidak menyangka ada sesosok malaikat di dalam rahim saya. Fotonya memang rada tidak jelas, tapi waktu di layar USG jelas banget. Waktu di USG pertama itu dokter bilang sudah 3 minggu 1 hari. Tapi badan saya masih kurus sekali. Berat badan pun cuma naik 1 kg. Dan karena dokter bilang tidak ada masalah dan bayi serta saya sehat-sehat saja, saya cuma diberi supemen -folamil genio-. Alhamdulillah tidak ada masalah.





Sekarang kehamilan sudah memasuki usia 3 bulan 3 minggu. Selama hamil selera makan saya sampai saat ini belum kembali. Karena takut debay kekurangan nutrisi, saya tetap makan meskipun eneg. Ketika mual makan nasi saya ganti dengan makan jagung, ubi, atau roti. Protein saya cicil. Ketika eneg dan perut terasa penuh saya makan ikan, atau telur, atau ayam saya makan belakangan. Entah kenapa saya jadi tidak suka sayur tapi konsumsi buah saya tingkatkan. Tapi entah mengapa rasanya masih kurus juga. Mungkin karena saya memang kurus ya... Karena sulit makan konsumsi susu saya jaga 2 kali sehari.

Dokter juga berpesan agar saya rutin check up ke puskesmas sebulan sekali. Untuk USG minimal 3 kali saja karena saya tidak punya masalah kehamilan. Hanya males makan. Hehe... Di puskesmas nanti ada tes darah untuk pemeriksaan virus HIV, program dari pemerintah, pemeriksaan urine, hemoglobin dan lain-lain. Dan alhamdulillah tidak ada masalah. Dari puskesmas juga saya mendapatkan buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) yang harus selalu dibawa ketika check up sampai setelah persalinan dan imunisasi anak selesai. Ada banyak info penting di dalamnya.

Di puskesmas saya diberi tablet penambah darah -ferrous fumarate- yang harus diminum setiap hari 1 tablet, kalsium yang harus diminum 2 tablet sehari, dan juga kaplet salut selaput yang diminum 1 tablet sehari.

Di postingan berikutnya InsyaAllah saya akan review tentang susu hamil yang saya minum sebagai info tambahan untuk mommy kece....