Showing posts with label mommy. Show all posts
Showing posts with label mommy. Show all posts

Saturday, January 5, 2019

Badai Pasti Berlalu

January 05, 2019 0 Comments
Courtesy by NU Online

Ini cerita saya di awal tahun sebagai flashback di tahun 2018 lalu untuk menjadi pelajaran berharga yang menurut saya cukup untuk dikenang, tidak diulang. Siapa tau bisa jadi pelajaran, dan jika ini tidak baik mungkin cukup dibuang saja dan dilupakan.

Di awal 2018 saya sudah memutuskan untuk resign dari kantor konsultan tempat saya bekerja. Alasannya karena hamil Asya. Saya merasa kelelahan menjadi istri bekerja yang merangkap sebagai ibu rumah tangga juga. Saya tak punya pembantu. Waktu itu saya juga mencoba buka usaha menjahit di rumah. Suami sudah sejak lama menyuruh saya untuk berhenti bekerja namun saya ragu. Banyak sekali ketakutan tak beralasan dari diri saya untuk menolak permintaan suami. Saya takut tak punya uang, saya takut tak cukup uang, dan saya takut kesepian. Bukan tanpa alasan suami menyuruh saya resign. Mengingat dan menimbang banyak sekali masalah yang muncul karena saya bekerja. Dimulai dari saya yang mudah kelelahan dan sampai di rumah marah-marah, lalu ditambah lagi pergaulan saya yang mau tidak mau harus selalu bergaul dengan laki-laki karena saya seorang arsitek. 

Suami saya tidak salah. Saya yang egois. Akhirnya keputusan resign pun saya ambil meski dengan berat hati. Namun bukan tanpa solusi, suami saya terus membimbing saya untuk bisa mandiri tanpa bekerja dengan orang lain. Saya dan suami membuka biro arsitetur di rumah. Ya, suami saya tetap mengizinkan saya bekerja tapi tetap berada di rumah. Sampai sekarang saya dan suami masih menjalankan usaha jasa tersebut.

Lalu Allah kasih cobaan kepada saya dan suami di bulan Maret. Kontrak kerja suami yang waktu itu bekerja di WWF tidak berlanjut sampai pada waktu yang tidak bisa ditentukan. Suami pun akhirnya tak punya pekerjaan tetap dan kami berdua menjalankan usaha jasa kami hanya dari rumah saja. Dan usaha itu berjalan lancar tanpa hambatan hingga bulan Juli.

Bulan Juli Asya lahir. Saat itu saya harus operasi caesar karena tensi saya tinggi sekali, 170 waktu itu. Tak mungkin lagi diinduksi, ketuban pun sudah pecah. 15 jam saya menahan sakit tanpa henti. Di bulan Juni dan Juli kami merasa sangat kesusahan. Karena kondisi saya sedang hamil besar dan mendekati hari perkiraan lahir, suami saya akhirnya menyetop orderan desain. Saya disuruh beristirahat yang banyak. Kami belum punya SDM yang cukup untuk menerima semua orderan desain waktu itu. Semua pekerjaan kami berdua yang lakukan.

Dan masalah pun bermunculan. Allah menguji kami berdua. Pada bulan Juni dan Juli tersebut ekonomi suami mulai sulit. Semua project saya mandeg. Ada pula orang menipu kami. Suami saya mencari jalan agar kebutuhan kami tercukupi. Mulai mencari pekerjaan meskipun usaha jasa kami harus terabaikan karena kebutuhan yang mendesak, lalu mencoba berjualan apapun di internet dari mulai yang kecil sampai yang besar. Lalu menjual apa saja yang bisa dijual hingga rumah kami pun terjual. Kemudian beliau juga jadi marketing perumahan lagi. Semua dia lakukan untuk mencukupi kebutuhan hidup saya dan Asya.

Dan entah kenapa di bulan Asya lahir itu tak satu pun sesuatu yang suami saya jual itu terjual, sampai buku pun tak ada yang beli. Lamaran kerjanya tak ada yang  diterima, tak ada panggilan interview sama sekali. Orderan desain pun juga tak ada. Sempit sekali rezeki kami pada saat itu. Saya sedih sekali dengan keadaan tersebut. Tapi saya tetap ingin menjadi istri yang baik yang tetap mendampingi suami dalam keadaan paling bawah sekalipun. Sampai saat itu kami mau tak mau meminjam uang orang tua karena kesulitan tersebut. Kebutuhan Asya setiap hari harus terpenuhi, susunya, popoknya.

Tak cuma sampai disitu, ketika Asya berumur 4 hari, dia harus dibawa ke klinik karena badannya panas, dia menangis meraung-raung malam itu. Tiba di klinik, bidan bilang Asya kekurangan ASI. Saya berpikir bagaimana mungkin? Saya menyusui Asya sampai 6 jam tapi dia tak pernah kenyang. Saya dan Asya masih belajar menyusui. Mungkin dia belum pandai menyusui sama seperti saya yang belum pandai memberikan ASI dengan baik. Atas saran bidan, saya disuruh memberikan susu formula agar panas badan Asya turun. Setelah minum susu formula, benar kiranya, panasnya mulai turun dan dia tidur dengan nyenyak karena kenyang. Masalah muncul kembali, Asya terkena alergi susu sapi, telinganya keluar nanah dan kulitnya penuh dengan nanah, ruam, dan bonyok. Dengan terpaksa Asya dibawa bolak balik ke rumah sakit. Saya sedih sekali waktu itu. Akhirnya Asya diberikan susu soya.

Tak hanya sampai disitu, ketika Asya berumur sebulan, Allah kasih cobaan ke saya, payudara saya bengkak seperti mau meletus. Rasanya sakit luar biasa. Dokter bilang saya terkena radang payudara dan dirujuk untuk operasi. Katanya saya tak mau menyusui hingga payudara saya bengkak. Padahal paling sebentar saya menyusui Asya itu 4 jam, tetap saja saya disalahkan dokter. Sedih sekali rasanya. Mereka tak mau mendengarkan saya. Sampai pada waktu itu saya menangis berhari-hari karena menahan sakit. Saya katakan pada suami bahwa saya rasanya mau mati menahan rasa sakit itu. Saya minta maaf ke orang-orang mengatakan kalau seandainya saya mati, tolong jaga Asya dengan baik. Sampai saya berusaha untuk mengikhlaskan diri ini jika seandainya suami menikah lagi. Belum lagi masalah dengan keluarga yang tak mau mengerti bahwa kami sedang tak punya uang.

Sampai berbulan-bulan kami hidup penuh kekurangan. Allah kasih cobaan ke suami saya ketika saya sakit. Dan Allah juga kasih cobaan ke saya ketika suami saya miskin. Saat itu saya hanya berharap, badai pasti berlalu. Saya percaya isi Surat Al-Insyirah yang mengatakan bahwa dibalik kesulitan ada kemudahan. Saya selalu yakin itu.

Sejak Asya lahir sampai akhir tahun 2018, saya dan suami harus kerja serabutan untuk mencukupi kebutuhan hidup kami. Tidak berlebih namun pas. Dan hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Benar adanya, roda itu terus berputar. Saya selalu yakin Allah tak akan membiarkan hambanya terus berada di bawah, dia akan angkat derajat bagi hamba-hambanya yang terus bersabar. 

Alhamdulillah Allah hanya menguji kami sebentar untuk saat itu. Pelan-pelan Allah mudahkan rezeki kami kembali. Setiap hari saya menunggu segala hal buruk dan menyedihkan pasti akan berakhir. Dan Alhamdulillah orderan desain saya mulai banyak lagi, lubang-lubang rezeki mulai tampak kembali, dan Alhamdulillah, di akhir tahun 2018 saya mendapat kabar gembira bahwa suami saya lulus CPNS. Meskipun ikhtiar untuk menjadi CPNS itu adalah ikhiar terakhir saat itu dan dia tak menginginkannya, tapi jalan itulah yang Allah berikan kepada kami saat ini. 

Kami merasa, mungkin segala kesulitan kami saat ini karena orang tua kami tak ridho dengan jalan kami yang memilih untuk jadi enterpreneur, mereka lebih bangga jika kami punya pekerjaan tetap. Dan suami saya mencoba jalan yang orang tua kami inginkan meskipun hatinya berat. Dan Allah sudah mengabulkan doa orang tua kami meskipun mimpi suami saya harus dikorbankan. Tapi Allah Maha Tahu yang terbaik bagi hambanya. Saya dan suami hanya berusaha ridho dan ikhlas menerima ketetapanNya. 


Mungkin masalah terasa berat ketika kita berusaha untuk melawan.


Dan saya selalu sadar, cobaan dalam rumah tangga itu tak hanya satu. Dan yang mengalami kesulitan itu tak hanya kami. Banyak orang di luar sana yang cobaannya jauh lebih berat dari kami. Namun tentu Allah memberikan cobaan sesuai dengan kesanggupan hambaNya.

Menikah itu menyelesaikan satu masalah, tapi setelah itu ada banyak masalah baru menanti. Tapi bedanya, kita sudah berdua dan segala hal yang dilakukan penuh dengan berkah. Alhamdulillah untuk cobaan di tahun 2018 lalu, dengan cobaan itu menjadikan kami lebih dekat dengan Tuhan dan percaya bahwa Tuhan benar-benar menyayangi kami. Allah memberi ujian bukan tanpa alasan, karena Tuhan ingin mengangkat derajat hambaNya...


😊😊😊😊😊

Monday, December 24, 2018

Pengalaman Operasi Caesar

December 24, 2018 0 Comments
Courtesy by pixabay
Assalamu'alaikum...



Wah, sudah lama sekali blog ini gak ditulis. Kalo rumah mungkin sudah berhantu dan sawangan kali yak... Maklumlah, baru jadi ibu baru, saya harus beradaptasi dengan keadaan baru juga.


Saya ingin bercerita tentang pengalaman operasi caesar saya sekitar kurang lebih 5 bulan yang lalu. Masih terlintas dibenak saya betapa hari itu hari yang menegangkan, penuh rasa takut dan bahagia. Takut dengan rasa sakit dan bahagia karena akan bertemu malaikat kecil yang sudah lama ditunggu selama 10 bulan. Ya, saya hamil 39 minggu lewat 3 hari.

Waktu itu perkiraan kelahiran putri saya 7 Juli 2018, tapi setelah ditunggu-tunggu ternyata dia lahir tanggal 23 Juli. Saya tidak panik karena dokter memberi tahu bahwa kelahiran bayi bisa jadi 2 minggu lebih cepat atau lebih lambat dari hari perkiraan lahir. Dan bayi siap dilahirkan ketika berusia 36-40 minggu. Dan pada masa hampir 10 bulan itu bayi dalam perut saya pun masih aktif bergerak, jadi saya benar-benar tunggu hingga kontraksi.

Hari itu sekitar pukul 01.00 dini hari saya sudah keluar tanda berupa bercak darah bercampur lendir ketika saya pipis tengah malam. Saya sadar bahwa saya akan segera melahirkan karena sudah banyak bertanya pada teman-teman yang sudah lebih dulu merasakan persalinan. Sekitar pukul 3 sampai 4 dini hari itu saya mulai merasakan kontraksi ringan. Sejak seminggu sebelumnya saya sudah merasakan debay udah mulai nyodok-nyodok dari dalam ke arah vagina karena waktunya memang sudah dekat. Mertua saya bilang karena dia lagi nyari jalan lahir. Waktu itu saya tidur di rumah mertua. Saya katakan saja apa yang saya rasakan. Jam 7 pagi saya dibawa ke rumah sakit oleh ibu mertua beserta suami.

Ketika sampai di Rumah Sakit Islam Arafah Jambi, saya langsung masuk ke UGD karena melahirkan merupakan salah satu keadaan darurat. Suami saya mendaftarkan langsung saya sebagai pasien melahirkan. Saya didorong dengan kursi roda ke ruang bersalin. Bidan pun mengecek vagina saya dan ternyata masih bukaan 2. Dan ternyata untuk pasien BPJS, peraturan rumah sakit menyatakan bahwa bisa menggunakan BPJS jika sudah bukaan 4 ke atas. Akhirnya saya disuruh pulang oleh bidan. Bidan mengatakan lebih baik pulang untuk menghindari stress. Karena di ruang bersalin itu keadaannya penuh dengan kepanikan. Ketika ibu yang akan melahirkan mendengar suara teriakan ibu lain yang sedang ngeden, kita bisa stress sebelum finish. Akan muncul rasa takut karena efek sugesti.

Jauh sebelum persalinan suami saya sudah mencari rumah sakit islam yang tidak ada perawat pria yang bisa melihat aurat saya. Dan rumah sakit yang kami pilih adalah Rumah Sakit Islam Arafah Jambi. Sejak awal saya dirawat tidak ada perawat pria yang merawat ibu hamil dan pasca lahiran. Adapun mereka hanya bertugas mengantar dan membantu mengangkut pasien pasca operasi. Selebihnya hanya perawat perempuan yang merawat saya.

Selama hamil saya beberapa kali berkonsultasi dengan dr. Eka F Malau  di prakteknya di Apotek Sari Indah dan dengan dr. Sicilia di Klinik Tanjung Lumut Kota Jambi. Pernah juga sekali dengan dr. Suhair. Saya memilih berkonsultasi dengan dokter perempuan karena lebih nyaman ketika bertanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan hal intim karena sesama perempuan. Meskipun tidak ada dokter kandungan saya di rumah sakit itu, suami saya tetap merujuk saya ke rumah sakit islam karena beliau berprinsip dalam keadaan darurat saja kita bisa dengan dokter pria dan selagi masih ada pilihan, suami saya tidak mengizinkan saya ditangani dengan dokter pria. Tapi mungkin tidak semuanya sependapat. It's ok. This is just our opinion.


Courtesy by pixabay
Lanjut ya...

Sekitar jam 13.00 siang sehabis zuhur, kontraksi terus terjadi sejak pagi. Rasanya kok tak berhenti ya... Bukankah kontraksi normal terjadi selang 15 menit sekali, kemudian 10 menit sekali, dan selanjutnya 5 menit sekali. Sejak pagi kontraksi saya rasanya tak ada selang selingnya, sakit terus menerus. Dan ketika saya cek ke kamar mandi sewaktu mau pipis darah bergumpal-gumpal keluar dari vagina saya dan akhirnya saya menggunakan pembalut. Rupanya saya kembar darah. Karena sakit yang gak berhenti juga, saya pikir saya udah mau melahirkan. Sebelum ke rumah sakit saya disuruh makan telur ayam kampung yang dicampur minyak sama mertua. Saya gak tau apa efeknya. Katanya sih biar melahirkannya lebih mudah. Gak tau deh pernah ada penelitiannya atau nggak. Cuma ya karena nahan sakit, ya nurut aja. Berharap segala rasa sakit segera berakhir 😅😅😅

Tiba di rumah sakit, ternyata masih bukaan 2 mau masuk ke bukaan 3. Saya disuruh pulang ke rumah lagi. Untung rumah sakitnya deket rumah mertua. Selama menunggu kontraksi saya tak punya selera makan. Yang saya rasakan hanya sakit sampe ke ubun-ubun. Sampe habis ashar saya sudah tak tahan lagi, darah bergumpal-gumpal terus keluar, saya minta antar ke rumah sakit untuk yang ketiga kalinya. Dan dikasih telur ayam kampung mentah ang dicampur minyak lagi... (Kebayang gak rasanya?)Tiba di rumah sakit rupanya sudah bukaan 4. Akhirnya pihak rumah sakit menyuruh suami saya untuk mendaftarkan nama saya. Hmm... rupanya pihak rumah sakit menyuruh menunggu kontraksi di rumah itu tujuannya baik kok. Mereka cuma tidak ingin pasien yang belum melahirkan ini ketakutan kalo ada pasien lain yang lagi teriak-teriak ngeden. Takutnya malah stress...

Sampai habis maghrib saya menunggu di ruang bersalin tanpa ditemani siapapun. Sesekali mertua saya melihat kondisi saya bergantian dengan suami. Ketika suami masuk, saya cuma bisa menggenggam tangannya keras-keras menahan sakit. Bidan menyuruh saya tidur miring ke kiri untuk mempercepat proses kontraksi, tapi saya tidak tahan dan memilih jalan-jalan supaya tidak begitu sakit. Tapi malah kena marah... 😂


Saya sudah berusaha supaya bisa lahiran normal. Saya rajin jalan kaki, sudah rajin jongkok, sudah nunggu baby hingga merasakan kontraksi, padahal kehamilan sudah memasuki minggu ke - 40, sudah terjadi pengapuran juga di rahim saya. Setelah bayi lahir, orang enak aja bilang saya gak sabar. Sudah gak sabar gimana lagi coba, nunggu kontraksi 15 jam, ketuban darah, tensi tinggi... Apalagi yang bisa dilakukan? Nunggu tensi turun? Ketuban aja udah pecah. Semakin naik bukaan, semakin sakit, tensi semakin tinggi. Saya nggak tau ya, apa tensi saya itu karena saya nahan sakit, atau karena saya makan telur ayam kampung 2 butir sebelum ke rumah sakit saya nggak tau. Yang jelas hari itu saya sudah benar-benar berjuang namun apa daya kalau ternyata akan berakhir di meja operasi. Kalaupun lahiran di bidan, dengan kondisi seperti saya itu, bakal dirujuk ke rumah sakit juga kok. Dan prosesnya malah lebih ribet lagi.

Pertimbangan saya lahiran di rumah sakit bukan tanpa alasan. Saya belajar dari pengalaman ibu saya 27 tahun silam. Awalnya dikirainnya bakal lahiran normal seperti ibu-ibu pada umunya, ternyata ibu saya harus 3 kali pindah tempat  karena terjadi masalah saat melahirkan. Yang bikin repot itu mondar-mandir dan administrasinya. Mana jaman dulu gak punya kendaraan, angkot juga masih susah, ojek gak ada. Nah ceritanya ibu saya awalnya lahiran di bidan, ternyata saya tak kunjung lahir, dirujuklah ke rumah sakit swasta terdekat, ternyata harus caesar, jika tidak mungkin saya dan ibu sudah tak ada sekarang. Karena pada saat itu biayanya sangat mahal, akhirnya dirujuk kembali ke rumah sakit umum. Dalam keadaan kontraksi itulah ibu saya harus berjuang berpindah-pindah. Padahal jika langsung ke rumah sakit kan langsung ada penanganan. 

Saya sempat dicekcoki omongan kalo lahiran di rumah sakit itu pasti bakal caesar. Sempat debat juga dengan mertua biar lahiran di bidan aja yang sabar. Ya mereka gak mengalami apa yang ibu saya alami sih jadi mungkin pendapatnya karena mereka gak tau. Sebenarnya kalo ak ada indikasi, dokter juga gak mau kok sembarangan operasi orang. Melahirkan kan keadaan darurat. Kalo dibilang lahiran di rumah sakit pasti bakal operasi karena dokter gak sabar, kok teman-teman saya banyak yang lahiran normal ya di rumah sakit? Kalo lahiran di bidan pasti bakal diusahakan normal, kok banyak juga yang dirujuk.

Saya bukan tidak pro ke bidan, tapi saya punya latar belakang kondisi yang rumit dari ibu saya dulu. Jadi saya gak mau ambil resiko untuk memaksakan lahiran normal jika ternyata kondisi saya juga rumit ketika melahirkan waktu itu. Menurut saya, mau lahiran di bidan ataupun di rumah sakit, lihat riwayat orang tua kita dulu bagaimana pengalamannya. Jika ibu kita melahirkan mudah, InsyaAllah kita juga bakal melahirkan mudah. Tapi jika punya riwayat yang cukup sulit mungkin akan lebih baik lagi mempertimbangkan untuk melahirkan di rumah sakit saja karena ketika ada masalah langsung ditangani dengan cepat karena disamping alat-alatnya lengkap, tenaga medis juga banyak, dan hemat waktu.


Courtesy by pixabay
Nah, sekitar jam 8 malam saya masuk ruang operasi, sudah berganti pakaian operasi, saya didudukkan di meja operasi. Bayangan saya ruang operasi itu seram, banyak benda tajam, dan gelap. Ternyata ruang operasi tak semenyeramkan itu. Ruangannya bersih, terang, bau obat, dan semua petugas kesehatan sudah siap dengan tugasnya masing-masing. Satu pengalaman saya sewaktu mau dibius itu, jarum anestesi yang masuk ke tulang belakang saya patah 😅. Mungkin karena saya terlalu tegang kali ya... Saat dibaringkan kaki saya mulai berat untuk digerakkan, suhu panas mulai memasuki tenggorokan dan suara mesin jantung terdengar di antara percakapan dokter saat itu. 

Saya benar-benar pasrah, yang saya bayangkan waktu itu, ruang operasinya kok gak kayak di drama Korea itu ya... menegangkan... Saya mendengar dentingan benda tajam atau mungkin seperti pisau dan lain sebagainya berbunyi. Sesekali suara cairan disedot. 15 menit setelah rasa tegang itu, terdengar suara bayi yang menangis paling kencang malam itu. Perawat membersihkan anak saya dan meletakkannya di dada saya. Tak terasa air mata saya menetes karena haru. Rindu yang sudah lama terpendam seolah terbayar sudah dengan lahirnya seorang Arumi Nafasya. Gadis mungil yang kini sudah berusia 5 bulan, bersamanya saya melewati hari-hari penantian. Dan sekarag, tiap kali menatap wajahnya, ada kebahagaan yang tak pernah bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ya... hingga hari ini, hanya rasa syukur yang ingin selalu saya katakan kepada Tuhan...

Ya Allah... terima kasih untuk hadirnya seorang bayi mungil yang kau percayakan kepadaku, dan terima kasih untuk suami yang baik yang selalu hadir dalam setiap suka dukaku...

Alhamdulillah... 😊😊

Tuesday, January 23, 2018

Review Susu Ibu Hamil

January 23, 2018 0 Comments
Assalamu'alaikum mommy yang super duper cantik...

Courtesy : Pinterest
Seperti yang sudah saya janjikan, saya ingin menulis review tentang susu ibu hamil yang sudah saya coba. Karena saya ini orangnya moody, jadi saya suka bosan sama 1 rasa saja sehingga saya suka coba-coba. Saya pikir semua susu itu sama, hanya persentase kandungannya saja yang berbeda.

Saya sudah mencoba dari Prenagen Esensis sewaktu merencanakan program kehamilan, Prenagen Mommy Emesis, Lactamil Inisis, Lactamil Pregnasis, sampe Vidoran Ibunda. Dan dari 1 rasa ke rasa yang lain sudah saya coba. Hehe... Lumayan banyak untuk kehamilan yang baru hampir memasuki 4 bulan ini.
Susu untuk persiapan kehamilan - Prenagen Esensis
Setelah menikah saya masih bekerja. Saya penggemar susu, waktu itu saya beberapa kali minum susu pra kehamilan untuk menunjang program kehamilan pertama saya karena sempat beberapa bulan kosong. Waktu itu sahabat saya menyarankan untuk minum Prenagen Esensis. Saya coba rasa coklat dan moka. Moka ini sejenis kopi, tiap saya minum makanan atau minuman yang punya rasa kopi, pasti pipis saya jadi bau kopi. Begitupun dengan Prenagen Esensis ini. Kemudian saya ganti yang rasa coklat. Rasa coklat normal-normal saja sih. Harganya Rp 59.000,00 untuk yang 360 gr dan Rp 32.000,00 untuk yang 180 gr. Ada rasa coklat, moka, dan vanilla.

MENGAPA HARUS MINUM SUSU PRA KEHAMILAN?


Dari beberapa sumber info yang saya dapatkan adalah kandungan di dalam susu ini kaya akan asam folat, kalsium, dan mineral lainnya. Maka kandungan ini ikut berkontribusi menyumbangkan kandungannya untuk calon janin nantinya. Dan sebagai tambahan, susu pra kehamilan ini juga menjadi cadangan nutrisi ketika sang ibu mual dan muntah ketika hamil. Ketika kehamilan trisemester pertama, ibu akan mengalami tidak nafsu makan, morning sickness, sampai tidak makan sama sekali. Nah, kandungan di dalam susu pra kehamilan ini lumayan ikut membantu loh. Apalagi asam folatnya. Sehingga diharapkan janin tidak kekurangan asam folat untuk perkembangannya selama trisemester pertama. Tapi bukan berarti susu saja cukup ya Mom untuk nutrisi debay... Ibu harus tetap makan ketika mual dan muntah. Karena ibu sendiri butuh tenaga untuk menjaga debay agar tetap sehat.

Ada sebagian ibu yang tidak bisa makan sama sekali ketika hamil. Setiap makan keluar lagi. Di beberapa kasus dari para ibu yang pernah cerita ke saya, ada yang tidak makan selama 7 bulan, bahkan ada yang sampai 9 bulan. Adapula yang bergerak sedikit muncul flek. Ada juga yang selama 9 bulan mau ke kamar mandi aja harus digotong suami. Nah, jika keadaan seperti ini terus berlanjut, sebaiknya konsultasikan ke dokter. Bagaimanapun, ibu harus tetap sehat agar janin mendapatkan nutrisi yang cukup. Rahim itu diciptakan kuat oleh Allah, tapi ada sebagian ibu yang memang diberi cobaan seperti itu. Tiap kondisi kandungan berbeda-beda.

Ada pula ibu yang cuma mau makan nasi Padang saja ketika hamil, ada yang suka makan sambal terasi dan terong, ada yang cuma suka makan pisang goreng. Saya sendiri sukanya jajan gak suka makan nasi, lebih tidak sehat lagi, jangan ditiru ya Mom... Tapi kadang saya ganti nasi dengan jagung, ubi rebus, spagetti, ataupun kentang goreng. Jangan sampai ibu lemas karena bisa mengurangi produktifitas sehari-hari.

PERBEDAAN PRENAGEN MOMMY EMESIS DAN PRENAGEN MOMMY




Prenagen Mommy Emesis adalah susu yang dipersiapkan untuk ibu yang mengalami mual dan muntah. Mengandung Vitamin B6 dan protein yang terbukti secara klinis berperan dalam mengurangi resiko mual dan muntah di awal kehamilan. Dan juga mengandung zat besi, asam folat, dan kalsium yang tinggi.

Sedangkan Prenagen Mommy adalah susu untuk ibu hamil yang tidak mengalami mual dan muntah. Mengandung Vitamin B12 untuk pertumbuhan sel-sel darah merah, zat besi, asam folat, kalsium, serat pangan, dan juga insulin.

Di awal kehamilan selanjutnya, saya masih setia dengan Prenagen, saya coba rasa stroberi dan vanilla delight. Tapi saya lebih suka yang rasa vanilla delight, karena lebih seperti rasa susu Hilo, untuk Prenagen ini lemak susu tidak begitu banyak sehingga tidak terlalu bikin begah. Dan untuk rasa stroberinya saya merasa seperti ada rasa penicilin. Mungkin karena produksi Kalbe Farma yang notabene adalah perusahan farmasi.

PERBEDAAN LACTAMIL INISIS DAN LACTAMIL PREGNASIS


Pada waktu kehamilan 2 bulan saya sempat salah beli susu. Waktu itu karna mau cepat saya beli Lactamil Pregnasis. Setelah sampai rumah saya baru sadar ternyata Lactamil Pregnasis itu untuk kehamilan usia 4-9 bulan. Seharusnya saya beli yang Lactamil Inisis untuk usia kehamilan 1-3 bulan. Setelah saya searching, rupaya sebenarnya kandungannya sama. Jadi daripada mubazir ya saya minum aja...

Nah perbedaannya adalah :

Lactamil Inisis adalah susu yang diperuntukkan untuk ibu hamil usia 1-3 bulan. Susu ini menjadi solusi untuk ibu yang mengalami mual dan muntah di awal kehamilan. Tersedia hanya rasa coklat saja. Lactamil Inisis juga bisa diminum ketika merencanakan kehamilan loh... Rasanya lebih ringan tapi tetap enak.

Sedangkan Prenagen Mommy Emesis adalah susu untuk ibu hamil usia 4-9 bulan. Rasanya agak sedikit begah dan eneg tapi masih enak kok yang rasa coklatnya. Ada rasa coklat, vanilla, dan strawberry. Tapi saya tidak pernah menemukan yang rasa strawberry di pasaran.

Untuk kemasan 200 gr harganya Rp 32.500,00 dan untuk kemasan 400 gr harganya Rp 65.000,00

SUSU HAMIL VIDORAN IBUNDA


Nah, susu yang baru saja saya coba kemarin adalah susu Vidoran Ibunda rasa coklat. Waktu itu niatnya dari rumah memang pengen ganti susu. Sepupu saya bilang katanya ada susu murah merk Vidoran, ada susu anak juga ada susu untuk ibu hamilnya. Karena penasaran saya cek sendiri ke supermarket. Ternyata bener loh, Untuk susu Vidoran Ibunda kemasan 375 gr dibandrol dengan harga Rp 39.000,00 saja. Tersedia rasa Coklat, Vanilla, dan Kacang Hijau. Saya trauma dengan susu rasa kacang hijau karena pernah nyoba Hilo rasa kacang hijau dulu waktu masih gadis. Eneg dan gak keminum. Jadi sampai sekarang saya anti sama susu rasa kacang hijau.

Vidoran Ibunda rasanya not bad kok. Gak bikin eneg. Vidoran Ibunda ini produksi Tempo Scan. Setelah saya selidiki ternyata kandungannya yang sedikit lebih kalah dari susu Prenagen dan juga Lactamil. Kandungannya lebih sedikit 5-10 % dari kandungan yang biasa ada pada Prenagen dan Lactamil. Kelebihan Vidoran Ibunda adalah, susu ini dilengkapi dengan minyak ikan Cod yang biasanya tidak ada pada susu ibu hamil lainnya.

Dan pada umumnya, semua susu ibu hamil itu pasti mengandung asam folat, zat besi, dan kalsium lebih banyak. Asam folat selalu disebut sebagai nutrisi terpenting bagi janin karena asam folat ini yang mencegah cacat tabung saraf pada janin.

Saya biasanya menghabiskan susu kemasan 400 gr itu selama seminggu. Diminum ketika sarapan dan juga sebelum tidur. Untuk kemasan 200 gr biasanya cuma 3 - 4 hari. Karena saya susah makan jadi makanan dan minuman penunjang saya banyakin.

Nah, sudah tau kan Mom perbedaannya. Mommy bisa pilih susu yang sesuai dengan kebutuhan Mommy...


Sebaik apapun kandungan susu, tetap saja susu tidak mampu menggantikan asupan makanan bergizi karena susu hanya penunjang. Mommy harus tetap makan untuk mengisi energi karena ada manusia di dalam tubuh Mommy yang kelak harus Mommy persiapkan untuk menjadi generasi bangsa yang cerdas.

Well... tetap semangat untuk makan makanan bergizi ya Mom...




Monday, January 22, 2018

Suka Duka Kehamilan Trisemester Pertama

January 22, 2018 3 Comments
Assalamu'alaikum mommy kece...

Courtesy : Pinterest
Ini postingan kedua saya. Berhubung sekarang saya sedang hamil 3 bulan 3 minggu, yang sebentar lagi akan memasuki 4 bulan, saya ingin sekali berbagi cerita tentang suka duka di awal kehamilan pada trisemester pertama lalu.

Hmm... seharusnya diusia 3 minggu lebih kehamilan ini adalah masa jaya para bumil untuk merasakan ketenangan karena bebas dari morning sickness. Tapi berbeda dengan saya, morning sickness malah terjadi ketika memasuki bulan ketiga kehamilan. Awalnya saya merasa berada di atas angin di masa awal kehamilan , saya pikir saya akan baik-baik saja tanpa morning sickness, ternyata no... saya merasakannya.

Mual ketika menyantap makanan, eneg ketika mencium bau nasi dan bau-bauan menyengat lainnya. Oh,,, rupanya begitu rasanya ya :) Tapi tetap merasa alhamdulillah saja karena Allah telah menitipkan karunia terbesarnya kepada saya disaat banyak orang yang belum diberi kepercayaan untuk memiliki anak, Allah mempercayakan saya dan suami untuk dititipi berkah luar biasa ini... (Baper mode on...)

Saya sempat su'udzan dulu, saya pikir saya termasuk orang yang sulit memiliki anak, saya pikir saya kelelahan bekerja, saya lupa do'a di awal pernikahan dulu untuk menunda momongan karena ingin pacaran dulu dengan suami. Secara, kami hanya kenal 2 minggu kemudian menikah, jadi inginnya berdua dulu. Kami melupakan do'a kami. Di bulan ke 7 pernikahan, Allah memberikan hadiah luar biasa. Sebenarnya 6 bulan itu tidaklah lama, hanya kami saja yang kurang sabar.

Awal kehamilan dulu saya belum sadar. Bulan Oktober lalu saya merasa emosi sangat tidak stabil, lebih parah dari PMS. Awalnya saya kira saya mau halangan. Sasarannya ya suami tercinta. Waktu itu rasanya apa yang dia lakukan selalu salah di mata saya, begini salah, begitu pun salah. Sampai beliau pun merasakan emosi saya sudah tak terkendali lagi. Beberapa minggu bertengkar masalah-masalah sepele yang sebenarnya tak perlu dipertengkarkan. Dan semua masalah itu sayalah penyebabnya, Tapi siapa yang tau kalau sebenarnya saya hamil. Saya mulai curiga. Nafsu makan berkurang drastis. Badan makin kurus, emosi tak stabil, rasanya semua orang jahat. Padahal sebenarnya kondisi normal-normal saja, saya yang tidak normal.... :v

Lalu di bulan November saya telat 4 hari, sebenarnya tidak ingin baper, tapi entah mengapa saya curiga sepertinya saya hamil. Waktu itu minta diantar ke apotik untuk beli testpack. Suami bilang, "nantilah tunggu seminggu aja, nanti jadi baper..." Tapi saya ini tipe orang yang berpikir panjang. Saya berpikir, jika benar saya hamil kan saya bisa lebih hati-hati dalam berkegiatan. Kalo gak tau nanti saya sembrono...

Akhirnya suami pun menuruti saya untuk ke apotik beli testpack. Paginya saya cek ternyata saya beneran hamil. Waktu itu garis di testpact masih samar. Saya tanya-tanya ke temen yang sudah hamil duluan. Katanya nanti saja kalo mau ke dokter tunggu 2 minggu lagi daripada bolak balik karena biasanya kalau langsung ke dokter nanti disuruh balik lagi dua minggu lagi untuk bisa di USG. Selama menunggu 2 minggu itu, saya tanya sana sini kapan waktu yang tepat untuk USG. Saudara saya bilang, "Nanti saja pas 4 bulan. Yang mau dilihat itu apa? Kalau 5 bulan baru bisa lihat kelamin. Kalau sekarang buat apa, paling yang dilihat cuma titik gumpalan darah doank..." Jleb... Berniat mau bertanya pada yang sudah berpengalaman, eh malah dipatahkan begitu. Rasanya jleb... Karena perkataan itu saya pun berpikir sampai 3 bulan untuk USG. Catatannya adalah, ibu hamil itu hormonnya sedang tak stabil, ucapan yang sedikit saja menyentil itu bisa bikin sakit hati berkepanjangan, maklumlah ibu hamil kan tidak normal...

Dan waktu itu saya bertemu teman saya yang seorang bidan, dia waktu itu bertanya apa sudah di USG? Saya katakan belum karena masih mikir. Saya ceritakanlah omongan saudara saya itu, dan saya malah dimarahin sama teman saya, katanya, "Pentingnya USG di awal kehamilan itu adalah untuk mengetahui apakah kehamilan itu benar di dalam rahim atau di luar rahim? Jika terjadi di luar rahim kehamilan tidak bisa dilanjutkan dan harus digugurkan. Lebih baik tau sejak awal. Dan minimal periksa kehamilan pertama di puskesmas agar diberi vitamin-vitamin yang dibutuhkan ibu hamil." Dan jleb. Akhirnya saya mengerti. Saya terlalu kepikiran dengan omongan saudara saya sampai akhirnya saya menunda pemeriksaan. Saya merasa benar-benar tersesat saat itu. 

Akhirnya saya pun cek ke puskesmas terdekat, disana saya diberikan asam folat merek -folaxin- dan tablet anti mual, kata bidannya untuk awal kehamilan asam folatnya minum yang -folaxin-, nanti kalau sudah besar baru minum -folamil genio-. Nah, untuk ibu-ibu yang baru hamil sebaiknya langsung periksakan diri ketika mengetahui kehamilan. Tujuannya supaya kita bisa jaga-jaga supaya jangan terlalu capek, dan juga supaya bisa diberi vitamin-vitamin penunjang supaya gak mual. 

Seminggu kemudian saya ke dokter kandungan di Rumah Sakit Islam Arafah Jambi dengan dokter Suhair Quswain, saat itu usia kandungan saya sudah memasuki 3 bulan, saya pikir sudah saatnya untuk cek up. Itu juga setelah searching kesana kemari mencari dokter yang baik. Kabarnya ada dokter yang galak dan suka bikin tersinggung kalau ngomong. Untuk menghindari itu saya dengan Dr. Suhair saja. Beliau doker perempuan. Tadinya ada dokter praktek di dekat rumah orang tua yang sudah menyediakan USG 4D, tapi karena dokternya cowok suami tidak mengizinkan. 

Dan di RSI Arafah ternyata hanya bisa USG 2D, saya pikir bisa 4D. Saya ingin lihat kelengkapan organ tubuh debay. Tapi tidak apalah. Dokter bilang anak saya sehat, lincah, dan bergerak terus. Sewaktu di USG juga kaki tangannya bergerak aktif. Rasanya bersyukur sekali. Saya merasa terharu karena tidak menyangka ada sesosok malaikat di dalam rahim saya. Fotonya memang rada tidak jelas, tapi waktu di layar USG jelas banget. Waktu di USG pertama itu dokter bilang sudah 3 minggu 1 hari. Tapi badan saya masih kurus sekali. Berat badan pun cuma naik 1 kg. Dan karena dokter bilang tidak ada masalah dan bayi serta saya sehat-sehat saja, saya cuma diberi supemen -folamil genio-. Alhamdulillah tidak ada masalah.





Sekarang kehamilan sudah memasuki usia 3 bulan 3 minggu. Selama hamil selera makan saya sampai saat ini belum kembali. Karena takut debay kekurangan nutrisi, saya tetap makan meskipun eneg. Ketika mual makan nasi saya ganti dengan makan jagung, ubi, atau roti. Protein saya cicil. Ketika eneg dan perut terasa penuh saya makan ikan, atau telur, atau ayam saya makan belakangan. Entah kenapa saya jadi tidak suka sayur tapi konsumsi buah saya tingkatkan. Tapi entah mengapa rasanya masih kurus juga. Mungkin karena saya memang kurus ya... Karena sulit makan konsumsi susu saya jaga 2 kali sehari.

Dokter juga berpesan agar saya rutin check up ke puskesmas sebulan sekali. Untuk USG minimal 3 kali saja karena saya tidak punya masalah kehamilan. Hanya males makan. Hehe... Di puskesmas nanti ada tes darah untuk pemeriksaan virus HIV, program dari pemerintah, pemeriksaan urine, hemoglobin dan lain-lain. Dan alhamdulillah tidak ada masalah. Dari puskesmas juga saya mendapatkan buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) yang harus selalu dibawa ketika check up sampai setelah persalinan dan imunisasi anak selesai. Ada banyak info penting di dalamnya.

Di puskesmas saya diberi tablet penambah darah -ferrous fumarate- yang harus diminum setiap hari 1 tablet, kalsium yang harus diminum 2 tablet sehari, dan juga kaplet salut selaput yang diminum 1 tablet sehari.

Di postingan berikutnya InsyaAllah saya akan review tentang susu hamil yang saya minum sebagai info tambahan untuk mommy kece....

Tuesday, January 2, 2018

ENTRY

January 02, 2018 0 Comments
Courtesy : my graphic design
Assalamu'alaikum mommy...

Hai perkenalkan saya Amel, saat ini berprofesi sebagai ibu rumah tangga baru. Ini blog kedua saya setelah blog pertama saya tentang arsitektur, interior, dan lansekap saya abaikan sejenak. Blognya bisa di lihat di Architecture Diary .

Hmm... setelah berkarir selama kurang lebih 5 tahun, akhirnya saya jenuh juga menjadi engineer dan sekarang memilih menjadi ibu rumah tangga saja yang punya banyak waktu untuk menulis. Dan akhirnya... taraaaa... blog ini pun hadir. Sudah lama rasanya ingin punya blog yang isinya tentang passion lain selain arsitektur, tapi saat bekerja, waktu sangat sempit sekali untuk menjalankan hobi menjadi seorang penulis. Dan akhirnya Allah memberi kesempatan. Saya memilih untuk resign. Walaupun sebenarnya belum benar-benar berhenti karena masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan. Dan bos saya baik sekali, saya diizinkan untuk menyelesaikannya di rumah.

Mengapa saya memilih berhenti ketika orang-orang bilang, "cari kerja itu susah", "mengapa berhenti, kan sayang kerja sudah enak begitu". Ah membosankan. Saya memilih berhenti karena karena saya merasa waktu saya untuk suami dan keluarga sempit sekali. Suami lebih mendukung untuk berkarir mandiri ketimbang menjadi karyawan bertahun-tahun. Hidup itu pilihan. Saya bukan tipe pekerja, saya tipe orang yang bebas yang suka jalan-jalan. Menjadi wanita karir dan ibu itu bagus sekali, dan menjadi ibu rumah tangga juga bagus. Dan saya memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Karena saya merasa tak mampu menjalankan banyak peran sekaligus. Saya tidak ingin kehilangan ridho suami, ada banyak hak suami yang tak saya penuhi ketika saya bekerja. Well... banyak juga wanita yang mampu kok. Semangat mommy....

Saya punya alasan untuk resign ketika saya hamil. Saya pikir, ini adalah waktu yang tepat untuk istirahat. Karena bekerja sebagai tim teknis arsitektur untuk banyak proyek itu tidak mudah, untuk seorang perempuan, saya pikir itu cukup berat karena saya punya prioritas yang lain, yakni keluarga. Dan itu pilihan yang awalnya sulit.

Dan saya punya banyak rencana setelah berhenti bekerja. Salah satu rencana saya adalah blog ini. Saya ingin berbagi banyak hal tentang perempuan, hobby, passion, dan juga apa saja yang bermanfaat. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain :)


Well,,, semoga ini awal yang baik. Bismillah...